Pengelolaan Sampah RS Masih Carut-Marut

Sabtu, 17 April 2004

Bandung, Kompas – Pengelolaan sampah medis rumah sakit di Jawa Barat, khususnya rumah sakit milik pemerintah-termasuk puskesmas-sejauh ini masih carut-marut. Padahal, sampah medis merupakan limbah B3 (bahan beracun berbahaya) yang sangat berpotensi menularkan berbagai penyakit infeksi. Di Indonesia memang belum ada model manajemen sampah medis yang terpadu. Proyek percontohan model itu kini tengah dijalankan di Bandung.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja, Jumat (16/4) di Bandung. “Setelah studi kelayakannya selesai, diharapkan akan ada investor yang tertarik untuk terlibat di bidang ini,” kata Setiawan. Pengembangan model itu melibatkan Bank Dunia sebagai konsultan.

Setiawan juga tidak menjamin dokter-dokter yang praktik di rumah atau klinik secara bertanggung jawab menitipkan sampah medisnya ke RS yang dapat mengelola dengan cukup baik. “Masih banyak RS yang bahkan mencampur sampah medisnya dengan yang nonmedis, lalu membuangnya ke tempat pembuangan akhir sampah pada umumnya. Jelas ini berbahaya,” katanya.

Menurut Setiawan, estimasi rata-rata produksi limbah medis di seluruh RS di Jabar tahun 2004 adalah sekitar 3.500 kilogram per hari. Rata-rata tempat tidur di RS setiap hari menghasilkan 0,3 kg sampah medis. Limbah medis padat harus dibakar dalam insinerator dua bilik dengan panas lebih dari 1.000 derajat Celcius. Sementara itu, limbah cair diolah dengan instalasi pengelola air limbah (IPAL).

Limbah medis itu misalnya sisa jaringan tubuh bekas operasi, jarum suntik, perban, bahan-bahan reagen, hingga sisa radioaktif. Jarum suntik bekas jika tertusuk pada petugas sampah dapat menularkan berbagai penyakit infeksi serius, seperti hepatitis dan HIV/AIDS.

Koordinator Sanitasi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Maudy Dirgahayu mengungkapkan, sejak akhir tahun 2003 insinerator di RSHS sudah tidak dapat digunakan karena rusak. Hingga kini mereka terpaksa mengirim sampah medis padatnya pada sebuah perusahaan swasta yang khusus mengelola sampah. Sementara, sampah cair masih dikelola di IPAL milik sendiri.

“Saat insinerator kami masih berjalan pun sebenarnya tidak sempurna. Banyak mengundang protes dari lingkungan sekitar karena gangguan asap dan debunya,” kata Maudy.

Menurut Maudy, lokasi RS di kawasan padat memang menyulitkan jika harus mengelola limbah di lokasi yang sama dengan RS. RSHS saat ini memproduksi sekitar 150 kg sampah medis padat setiap hari.

Setiawan mengatakan, pengelolaan sampah medis yang ideal memang seharusnya tersentral di satu lokasi yang jauh dari kawasan padat penduduk agar memudahkan pengawasan, prosedur standar operasional lebih mudah diterapkan.

Sejauh ini, menurut Setiawan, di Indonesia belum ada satu perusahaan pun yang khusus bergerak mengelola limbah medis. (SF)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: