Penangan Limbah Medis Tajam Harus Segera Dibenahi

Bahaya Limbah Jarum Suntik

Pada tahun 1999 WHO melaporkan bahwa di Perancis pernah terjadi 8 kasus pekerja kesehatan terinfeksi HIV melalui luka, 2 kasus diantaranya menimpa petugas yang menangani limbah medis. Di Indonesia dalam satu laporan diketahui bahwa setiap bulan pemakaian alat suntik untuk pengobatan mencapai 10 juta pelayanan. Padahal selain untuk pengobatan, alat suntik juga digunakan dalam program imunisasi bagi bayi dan anak-anak yang  setiap tahunnya  mencapai  4,9 juta anak dan setiap anak memerlukan 8 suntikan. Dengan demikian jumlah limbah medis tajam di Indonesia menjadi sangat tinggi.

Oleh karena itu, penanganan limbah medis tajam harus segera dibenahi, karena limbah ini sangat berbahaya bukan hanya bagi pengunjung rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya, namun juga bagi petugas kesehatan serta masyarakat umum. Hal itu penting karena, limbah alat suntik dan limbah medis lainnya dapat menjadi faktor risiko penularan berbagai penyakit seperti HIV/AIDS, Hepatitis B dan C serta penyakit lain yang ditularkan melalui darah.           

Demikian penegasan Menkes Dr. Achmad Sujudi ketika membuka Lokakarya Penanganan Limbah Medis Tajam pada Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) di Yogyakarta tanggal 1 Juli 2003. Lokakarya yang berlangsung selama 3 hari diikuti 105 peserta dari Depkes Pusat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Wakil dari Kantor Meneg Lingkungan Hidup, pemerhati masalah limbah, produsen pengolah limbah lokal dan PATH (Programme for Appropriate Technology in Health).

Kendati Departemen Kesehatan telah menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk mengukur kualitas pelayanan kesehatan dasar yang salah satunya adalah kewajiban rumah sakit dan Puskesmas untuk mengolah limbahnya. Namun Menkes mengakui bahwa penerapannya masih belum baik. Berdasarkan hasil assesment tahun 2002, diketahui bahwa baru 49 % dari 1.176  rumah sakit (526 rumah sakit pemerintah dan 652 rumah sakit milik swasta) di 30 provinsi, baru 648 RS  yang memiliki incinerator dan 36% memiliki IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) dengan kondisi sebagian diantaranya tidak berfungsi.       Lebih lanjut ditegaskan, Depkes yang secara teknis memiliki kewenangan dalam penatapan standar-standar pelayanan kesehatan telah mengeluarkan berbagai ketentuan tentang penanganan limbah, terutama melalui Kepmenkes No. 876/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan serta Permenkes No. 986/1992 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan. 

Limbah medis sebagaimana limbah lainnya berkaitan dengan masalah lingkungan. Karena itu dalam penanganan limbah medis ini dilakukan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup yang memiliki otoritas dalam penerbitan produk hukum di bidang lingkungan hidup. Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) yang memiliki otoritas dalam pengembangan teknologi tepat guna dalam pembuangan limbah medis. Selain itu, Depkes juga mengajak BKKBN yang dalam pelayanannya juga menghasilkan limbah medis tajam.                

Menkes menegaskan, di masa lalu penggunaan alat suntik baik untuk pengobatan maupun imunisasi masih mengandalkan semprit atau syrenge yang disterilkan melalui perebusan berulang-ulang sehingga hampir tidak ditemui limbah alat suntik. Tetapi sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para dokter dan petugas kesehatan harus menggunakan alat suntik disposable (sekali pakai) dan bahkan memakai autodisable syringe (alat suntik sekali pakai yang betul-betul tidak dapat dipakai kembali), mengakibatkan adanya limbah alat suntik yang dikategorikan limbah medis tajam dan berbahaya.

Sementara itu Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi dalam keterangannya kepada wartawan menjelaskan bahwa lokakarya yang diselenggarakan ini merupakan bagian dari paket safe injection (suntikan yang aman). Dengan lokakarya ini diharapkan penerapan safe injection dapat berkembang secara sistematik di seluruh Indonesia melalui para peserta yang hadir.

Program imunisasi merupakan bagian dari upaya kesehatan dasar yang wajib tersedia bagi masyarakat dengan mutu yang baik. Hal ini seirama dengan prinsip hidup sehat dimana masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan dengan mutu baik dalam lingkungan fisik yang sehat sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

Menkes menyambut baik lokakarya ini dan berharap menjadi forum untuk mempertemukan para pakar dari berbagai ilmu serta para praktisi baik dalam maupun luar negeri. Dengan demikian hasilnya akan menjadi acuan Depkes untuk menyusun konsep manajemen penanganan limbah medis yang komprehensif di Indonesia. (sumber : Depkes)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: